Linon uak-uakmo, elaik kedang-kedangmo
Lit lik suloh-sulohmo, smong dumek-dumekmo
Anga linon ne mali, uwek suruik sahuli
Maheya mihawali fano me singa tenggi
Ede smong kahanne
Gempa itu ayunanmu, guntur gendang-gendangmu
Petir itu obor-obormu, tsunami air mandimu
Jika gempanya kuat, disusul air yang surut
Segeralah cari tempat, ke dataran tinggi agar selamat
Itulah tsunami namanya

Begitulah kurang lebih lirik Nandong Smong yang oleh masyarakat Kepulauan Simeulue, Aceh sering dijadikan nyanyian pengantar tidur (dodaidi) untuk anak-anak mereka.


Penjelasan tentang Nandong Smong ini sangat menarik untuk dibahas mengingat Nandong Smong adalah tradisi turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang sebagai pengingat bencana alam. Nandong dalam bahasa lokal bermaksud syair atau hikayat, sedangkan Smong adalah air laut yang naik ke darat atau disebut juga dengan tsunami. Masyarakat Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie dan sekitarnya menyebut tsunami dengan kata Ie-beuna (gelombang tinggi), sedangkan masyarakat Aceh Singkil menyebutnya Gloro.

Nandong di atas tentu sarat akan makna dan pembelajaran. Masyarakat diajarkan untuk tanggap bencana melalui syair sederhana yang dikabarkan berhasil menyelamatkan penduduk Simeulue pada bencana dahsyat gempa bumi dan tsunami Aceh tahun 2004.

Tsunami Purba Pernah Menghantam Aceh

Nandong Smong; Pendidikan Mitigasi Bencana Alam Berkearifan Lokal
Dok. Akbar Rafsanjani || Pintu masuk Guha Ek Luntie yang jadi salah satu tujuan wisata Aceh Besar

Bencana alam gempa bumi dan tsunami tahun 2004 bukanlah yang pertama kali terjadi di Aceh termasuk Simeulue. Kabarnya, 7400 tahun yang lalu, tsunami sudah pernah meluluhlantakkan provinsi paling barat pulau Sumatera ini. Masyarakat Simeulue sendiri sudah mengetahui tentang tsunami purba ini sehingga sejarahnya diceritakan turun temurun ke anak cucu mereka, salah satunya melalui nandong.

Terjadinya tsunami purba ini diperkuat dengan penemuan Peneliti Paleo Seismik dari berbagai negara di gua Ek Luntie Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar di mana mereka tidak hanya menemukan bukti tentang gempa bumi purba tapi juga menemukan endapan tanah yang menjadi bukti pernah terjadinya paleo tsunami (tsunami purba).

Dr. Nazli Ismail salah satu peneliti dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center yang berasal dari Aceh menyebutkan bahwa tim peneliti menggali tanah di dalam Gua Ek Luntie untuk menjawab hipotesis bahwa gempa dan tsunami purba pernah terjadi di Aceh. Melalui endapan tanah yang digali, dapat diketahui bahwa pada tahun 1883 dan 1907 pernah terjadi tsunami bahkan jauh sebelum itu.

Nandong Smong; Pendidikan Mitigasi Bencana Alam Berkearifan Lokal
Dok. Akbar Rafsanjani || Para peneliti Tsunami Purba sedang mengkaji endapan tanah yang digali di Guha Ek Luntie

Endapan tsunami purba ini ditutup oleh kotoran kelelawar yang menjadikan lapisan tanah berwarna hitam. Nazli juga mengatakan jika digali lebih dalam lagi, mereka bisa menemukan bukti tsunami purba yang terjadi tahun 900. Bukti tsunami tahun 2004 ditemukan memiliki endapan tanah yang paling tebal dibandingkan endapan yang lebih dalam dari itu.

Gua Ek Luntie ini sekarang dijadikan wisata mitigasi bencana yang ramai dikunjungi oleh turis domestik dan mancanegara. Nama Ek Luntie sendiri berarti kotoran kelelawar di mana di dalam gua terdapat banyak kelelawar. Kotoran kelelawar ini juga digunakan warga sebagai campuran pupuk.

Sejarah Tsunami Purba Dalam Manuskrip

Konon sejarah tsunami purba dan mitigasi bencana ini juga sudah ditulis oleh nenek moyang kita dalam manuskrip kuno yang bisa ditemukan di Museum Pedir yang dimiliki secara personal oleh Masykur Syafruddin. Museum yang berlokasi di Kabupaten Pidie ini tidak hanya punya koleksi manuskrip kuno, tapi juga artefak-artefak kuno yang jadi bukti sejarah Kesultanan Aceh Darussalam.

Kabarnya dalam manuskrip kuno ini juga ada penjelasan tentang gempa dahsyat yang terjadi pada hari minggu dengan kekuatan besar, maka diminta untuk lari menyelamatkan diri ke bukit karena akan datang ie beuna (gelombang tinggi). Ini dibuktikan oleh cerita salah satu korban tsunami yang selamat dari bencana tsunami tahun 2004 karena faham dengan mitigasi bencana dalam manuskrip kuno ini. Wallahua’lam.

Nandong Smong; Pendidikan Mitigasi Bencana Alam Berkearifan Lokal
Dok. Akbar Rafsanjani || Foto hanya sebagai ilustrasi

Nandong Smong Menyelamatkan Warga Simeulue

Gempa berkekuatan 9.3 Skala Ritcher disusul gelombang tsunami setinggi 30 meter tahun 2004 silam menelan 230.000 hingga 280.000 korban jiwa di 14 negara dan korban hilang lainnya. Gempa bumi megathrust yang terpusat di bawah laut Simeulue ini adalah salah satu bencana alam terdahsyat yang pernah tercatat oleh sejarah.

Kepulauan Simeulue yang terletak di pesisir pantai barat Provinsi Aceh ini menjadi salah satu daerah yang hancur diterjang gelombang tsunami. Yang menariknya adalah hanya 7 orang saja yang dilaporkan meninggal dunia saat itu karena Nandong Smong yang beredar di kalangan masyarakat.

Saat gempa besar mengguncang, masyarakat langsung lari menuju bukit atau dataran tinggi untuk menyelamatkan diri. Terbukti Nandong Smong ini telah menyelamatkan puluhan ribu masyarakat Simeulue pada saat itu.

Flashback ke sejarah tsunami yang terjadi tahun 1883 di Simeulue, saat itu Nandong Smong ini sudah jadi tradisi masyarakat Simeulue yang disyairkan baik dalam hikayat maupun dalam bentuk pantun. Bencana alam di Simeulue yang disebabkan oleh letusan Karakatao ini tidak banyak memekan korban jiwa karena tradisi Nandong Smong ini masih sangat kental di masyarakat.

Lain halnya dengan tsunami yang terjadi tahun 1907. Dikabarkan menelan banyak orang kehilangan nyawa seiring lunturnya budaya berkearifan lokal ini. Saat melihat air surut, masyarakat justru menuju laut untuk mengambil ikan-ikan di pantai. Mereka kemudian tersapu gelombang tsunami dan meninggal dunia.

Belajar dari kejadian ini, Nandong Smong kembali dituturkan di tengah masyarakat dan terus dilestarikan hingga hampir sebad kemudian. Pada tsunami 2004, Nandong Smong inilah yang menyelamatkan masyarakat setempat. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa Nandong Smong adalah pendidikan mitigasi bencana alam berkearifan lokal yang patut dijaga dan diajarkan menyeluruh kepada msyarakat Aceh khususnya.

Nandong Smong ini juga membuktikan bahwa mitigasi bencana alam di Aceh sudah sedemikian hebat mulai dari zaman nenek moyang dulu hingga negara-negara besar seperti Jepang pun berkiblat padanya dan bahkan melakukan penelitian lebih mendalam.

Pentingnya Pendidikan Mitigasi Bencana kepada Maysrakat

Indonesia disebut daerah rawan bencana. Kenapa demikian? Tiga lempeng tektonik dunia; Lempeng Indo-Australian, Eurasia, dan Lempeng Pacific adalah lempeng-lempeng yang menghimpit Nusantara ini. Dikepung oleh lempeng raksasa ini, tentu menjadikan Indonesia dihantui bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami hingga longsor.

Selain itu, Indonesia memiliki banyak sekali gunung berapi karena lokasinya yang melintasi jalur cincin api Pasifik. Sehingga Indonesia pun rawan dengan bencana gunung meletus atau erupsi vulkanik.

Melihat fenomena-fenomena ini, tentu perlu adanya pendidikan mitigasi bencana alam kepada masyarakat luas untuk bisa  menyelamatkan diri. Hal ini sangat diperlukan untuk meminimalisir korban jiwa. Selain menimalisir korban jiwa, edukasi mitigasi bencana alam ini juga mampu mengurangi resiko kerugian ekonomi negara dan kerusakan harta benda serta sumber daya alam.

Berkaca dari fenomena alam dahsyat yang pernah terjadi di Indonesia, banyak sekali komunitas dan organisasi non-profit yang berusaha untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mitigasi bencana alam ini sebagai self-assistance saat menghadapi bencana.

Di Aceh sendiri, komunitas seperti Sekolah Aman Bencana sudah mengambil langkah untuk turun ke masyarakat di pedesaan dan sekolah-sekolah awam untuk memberikan materi-materi penyelamatan. Hal-hal yang diajarkan sangat sederhana seperti pengetahuan tentang saat terjadi gempa bumi, sebaiknya berlindung di bawah meja dan kemudian lari ke luar ruangan saat gempa telah berhenti, serta jauhkan diri dari gedung tinggi.

Selain itu, mereka juga mengajarkan bagaimana menjaga alam agar tidak mengundang bencana terjadi, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan ilegal logging, dan lain sebagainya. Hal ini tentu disambut positif oleh masyarakat dan pemerintah setempat. Harapannya adalah komunitas seperti ini terus bertambah dan menyebar ke seluruh pelosok Indonesia agar setiap orang mendapat pengetahuan yang sama.

Nandong Smong pun perlu diajarkan kepada masyarakat luas dan bisa disesuaikan berdasarkan bahasa lokal, jenis bencana, dan letak geografis suatu daerah. Yang jelas, budaya dengan local wisdom seperti hikayat, syair, pantun, atau lagu pengantar tidur mampu memberikan memori kolektif secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi yang lain.

Upaya Melestarikan Nandong Smong

Melihat positifnya pengaruh Nandong Smong sebagai penyelamat bencana, Pemerintah Daerah Aeh dan Pemerintah Pusat mengupayakan penyebaran ajaran ini bagi masyarakat Aceh khususnya, Indonesia bahkan dunia pada umumnya. Melalui mitigasi bencana alam berkearifan lokal ini juga, banyak peneliti dari luar negeri termasuk Jepang melakukan penelitian sosial budaya berkaitan dengan Nandong Smong ini.

Nandong Smong diperkenalkan dengan berbagai cara, mulai dari informasinya di Museum Tsunami, melaui drama dan teater, hingg film dokumenter yang dibuat oleh komunitas film maker. Di Museum tsunami misalkan, informasi tentang Nandong Smong telah dibuatkan satu corner khusus di mana masyarakat dapat membaca sendiri sejarahnya dan melihat ilustrasinya.

Selain itu, universitas-universitas di aceh juga ikut menggelar pagelaran seni seperti drama yang ditampilkan oleh mahasiswa. Drama ini mengajarkan msyarakat untuk lari menyelamatkan diri saat gelombang tinggi datang. Selain itu, Nandong Smong ini juga disiarkan melalui film dokumenter.

Melestarikan Nandong Smong Melalui Film

Nandong Smong; Pendidikan Mitigasi Bencana Alam Berkearifan Lokal
Dok. Akbar Rafsanjani || Pak sutradara di acara diskusi film

Adalah Akbar Rafsanjani, seorang sutradara film dokumenter di Yayasan Aceh Documentary sangat peka dengan topik ini. Dia tertarik untuk membuat sebuah film dokumenter tentang Nandong Smong dan penelitian oleh tim peneliti Paleo Seismik di Gua Ek Luntie, Aceh Besar.

Berangkat dari pegetahuannya tentang mitigasi bencana alam dan pengalamannya sebagai volunteer di program-program edukasi mitigasi bencana, Akbar bersama tim mengangkat kembali Nandong Smong melalui cara yang berbeda yaitu film dokumenter.

Akbar melihat pola pikir masyarakat Aceh terhadap terjadinya bencana alam agak sedikit keliru. Masyarakat sering menghubung-hubungkan sebab terjadinya bencana alam adalah karena maksiat atau dosa yang dilakukan. Secara agamis, hal ini tidak salah, kata Akbar. Hanya saja pola pikir masyarakat harus diseimbangkan dengan pengetahuan alam. Pola pikir ini harus bisa dikondisikan tanpa harus merubah pola pikir lama yang ada benarnya juga, begitu pengakuannya.

Film dokumenter Nandong Smong ini adalah proyeknya yang didanai oleh Pusbang dan akan segera ditampilkan kepada masyarakat dalam program Aceh Menonton, salah satu program Yayasan Aceh Documentary. Akbar menjadi Sutradara dalam proyek ini bersama tim lainnya yaitu Faisal Ilyas sebagai Produser, M. Fauzi sebagai DOP, Agus dan Syafrizal sebagai Kameramen, dan Arziqi Mahlil dan Sayid Farial sebagai Editor.

Teman-teman penggiat film ini juga berharap melalui karya mereka, masyarakat sedikit banyak akan terbuka pikirannya dengan isu-isu yang terjadi di tengah masyarakat tanpa ada framing atau tirai yang menutup-nutupi. Harapan mereka juga bahwa film Nandong Smong ini akan menyadarkan pemerintah untuk terus mengupayakan pelestariannya.

0 Shares:
0 comments
  1. Aku juga pernah nonton saat kejadian tsunami itu disampaikan para reporternya bahwa di Simeuleu korban lebih sedikit karena mereka faham akan mitigasi bencana sehingga pas air laut surut mereka lari ke bukit. Betapa nenek moyang mereka telah menyelamatkan anak cucu tanpa mereka sadari ya.

  2. kejadian tentang tsunami ini tentunya membekas banget dan jujur aja aku baru tau ada nandong smong dari simeuleu ini sebagai tanda-tanda akan terjadinya bencana alam, semoga selalu dikuatkan warga Aceh yang terdampak…

  3. Aku jadi pengne tahu lebih banyak nandong smong mba, semoga memang filmnya ini bisa membuat banyak orang belajar dari kejadian yang sudah ada, Moga aja bisa sampe ke kota lain juga pengen nonton. Semoga warga yang kena dampak tsunami dikuatkan hatinya, dan trauma itu moga perlahan sedikit hilang. meski susah. Mba yang kuat

  4. Aw, Mas Arigetas makasih banyak untuk sanjungannya. Ini sedikit yang aku tau. Masih banyak yang bisa dibahas dari Nandong Smong ini termasuk bagaimana Nandong Smong bisa dikenal secara merata oleh masyarakat Simeulue yang lumayan luas. AKu harus belajar dan baca lebih banyak. ^^

  5. Benar. Syukur anak muda Aceh sudah makin banyak yang berkreasi melalui seni khususnya seni audio visual ini. Banyak komunitas positif yang peduli dengan daerah, Aceh Documentary salah satunya.

  6. Itu dia. Setelah kejadian baru ingat lagi. Tapi salut sama orang-orang yang masih peduli dengan budaya lokal ini lho. Kadang aku sendiri juga lupa tentang apa yang diajarkan nenek-nenek aku dulu.

  7. Entah udah berapa kali tsunami di Aceh. Aku aja yang orang Aceh baru tau lho. ^^ Mungkin karena kejadiannya jauh sebelum aku lahir. jadi, kabar tentang tsunami purba di masyarakat awam emang gak tersiarkan.

  8. Setuju mbak. Semuanya wajib tau, gak cuma masyarakat Aceh. Masyarakat Lombok dan Gondola dan Lombok tempo hari harusnya bisa diminimalisir korban jiwa jika tau tentang Nandong Smong ini lebih awal.

  9. Sayangnya film ini belum dipublikasikan secara nasional. Jadwal menonton bareng di Aceh pun masih dijadwalkan. nanti coba aku sarankan ke mereka untuk publish secara nasional.

  10. Alhamdulillah sangat bermanfaat mbak. Aku yang dari kabupaten Pidie aja gak tau lho ada Nandong Smong ini karena cuma orang Simeulue yang tau. Bahasa lokal mereka juga jauh banget bedanya dari Bahasa Aceh pada umumnya.

  11. Menarik sekali artikelnya, Mbak. saya jadi belajar banyak.
    sesuatu yang diajarkan lewat nyanyian/puisi/permainan itu memang lebih cepet masunya dibandingkan dengan teori saja. contohnya Nandong Smong ini, lebih banyak diinget karena diteruskan lewat nyanian dan hikayat. manfaatnya bergua sekali. semoga masyarakan daerah lain juga bisa belajar tentang mitigasi bencana ya jadi meminimalisasikan resiko ketika bencana terjadi.

  12. Salut buat Akbar Rafsanjani, memiliki kemauan kuat untuk melestarikan dan juga memperkenalkan Nandong Smong pada masyarakat yang lebih luas melalui produksi film dokumenter. Tak banyak anak muda seperti dia

  13. Salah satu tulisan mb Jasmi yang aku suka banget. Mengalir menceritakan tentang sejarah dan seakan aku bisa masuk ke dalamnya. Amazed juga dengan fakta bahwa tsunami pernah menghantam Aceh tahun 900.

  14. Pola pikir gini yang kadang harus diluruskan. Jadi gak teriak-teriak misalnya pas banjir, ada yang bikin dosa padahal masyarakat sendiri yang buang sampah sembarangan. Gituuuu

  15. Benar mbak. Sebenarnya dari dulu sudah diajarkan oleh nenek moyang. Sayangnya sempat memudar. Dan sekarang sedang diperkenalkan kembali. Semoga jadi hal baik kedepannya untuk anak cucu kita.

  16. Benar. Tugas Pemda dan Pemerintah Pusat adalah mengajarkan ilmu ini ke seluruh pelosok negeri. Setidaknya jadi salah satu tradisi untuk memperkenalkan Indonesia ke mata dunia.

  17. Yang pasti di atas bukit mbak. Kurang tau brp mdpl. Yang jelas bukti paleo tsunami ditemukan di sini. Tercatat sekitar 6 kali tsunami pernah menerjang Aceh terhitung tahun 900 hingga 2004 lalu.

  18. Kita emang udah kece dari lahir kok. Hehehehe. Harusnya yg gini2 dilestarikan yak. Tsunami Lombok tempo hari hari nya bisa menyelamatkan lebih banyak orang kalau Nandong Smong ini juga diterapkan di sana.

  19. Ya Al3, ternyata masyarakat Aceh sudah sering mengalami tsunami sejak dahulu kala. Dan ternyata ada sosialisasi alami di antara masyarakat yang juga sebagai pendidikan mitigasi. Kita tak bolej berandai-andai seluruh masyarakat Aceh saat itu tahu, karena sudah kejadian.
    Tapi yang jelas sekarang semua HARUS TAHU. Film dokumenter menjadi media tepat tuk edukasi semua warga.

  20. Ternyata di aceh sudah ada bencana tsunami sebelumnya ya, aku tahunya tsunami tahun 2004. bagus tuh ada dokumenter tentang nandong smong, semoga generasi saat ini dan mendatang bisa mengetahui sejarahnya

  21. MasyaAllah, jadi dari dulu masyarakat Aceh itu udah aware dan siap ya akan bencana gempa (juga tsunami) karena sebelumnya sudah pernah terjadi ya. Semoga kita semua dilindungi, Aamiin.

  22. Memang betul pepatah: jangan abai nasehat orang tua, karena mereka telah banyak makan asam garam. Mungkin seperti itulah ajaran tentang Nandong Smong itu ya. Sama seperti adat budaya di sini tentang 'setue' (harimau). Sayang, sudah terkikis dan ketika setue keluar barulah teringat kembali. Hiks

  23. Karena Nandong Smong ini sering dihikayatkan, seperti memberi kesan kalau pada masa lalu, saat Nandong Smong ini sering disenandungkan, berarti sedang menanamkan dalam pikiran alam bawah sadar atas apa yang sebaiknya dilakukan saat tsunami datang rupanya. Jadi ingin menonton film dokumenter ini deh.

  24. wuih lewat penelitian di gua jd tahu bagaimana tsunami yg hantam aceh pada tahun 900an. keren deh..peneliti kita semakin canggih ya. nandong smong harus diperkenalkan juga ke generasi muda, agar bs tanggulangi bencana

  25. Jadi sebenarnya nenek moyang zaman dulu di sana sudah mengajarkan soal Nandong Smong ini ya mbak? Sayang makin luntur krn digerus waktu.
    Aceh dan beberapa area lainnya di Indonesia emang unik, rawan gempa dan tsunami jg, semoga makin hari masyarakat makin sadar untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi, mengingat ajaran leluhurnya, supaya kalau ada bencana sudah siap dan tahu apa yang mesti dilakukan

  26. Sebenarnya masyarakat sana (nenek moyang) sudah faham kalau daerah sana sanng rawan sama Tsunami ya sampai ada system migasi namanya Nandong Smong ini.

    Harus disosialisasikan kembali agar masyarakat aware dengan keselamatan saat bencana. Dan suka banget dg adanyab di blog ini otomatis orang jadi kaya refresh atau recall kembali.

  27. Saya setuju mbak. Pemikiran masyarakat tentang penyebab bencana sebagai azab dari dosa, tak ada yang salah. Namun, alangkah baiknya memang jika diimbangi dengan pengetahuan tentang alam seperti yang mbak katakan.

    Keren banget pegiat seni membuat film dokumenter tentang Nandong Smong yang juga sangat bermanfaat untuk edukasi masyarakat.

  28. Terbukti Nandong Smong suatu kearifan lokal bisa menyelamatkan banyak nyawa. Tradisi dan budaya lokal emang harus dijaga ya mbak, karena ada banyaj kearifan di sana.

  29. Makasih sharingnya Kak. Jadi, kisah turun-temurun itu bagus-bagus aja yah. Lebih jitu bila disertai dengan riset. Apalagi anak-anak sekarang kan engga percaya dongeng. Sayang sekali yang di kota Banda Aceh, engga seperti itu. Laut surut, malah ke pantai ngambilin ikan. Duuuh…aku lihat videonya ngeri, dikejar tsunami…Sedih. Semoga engga terjadi lagi ya…

  30. Bisa membayangkan tsunami Aceh, karena tahun 2006 saya mengunjungi Pindie dan Banda Aceh dan waktu itu semua masih dalam tahap recovery.
    Artikel ini lengkap dan menarik, begitu kearifan lokal diajarka secara turun temurun dengan sebuah pesan moral. Saya jadi penasaran dengan film Nandong Smong. Apa tidak ada niatan ditayangkan secara nasional?

  31. Bener banget nih setuju, pendidikan mitigasi bencana emang penting banget agar nantinya masyarakat nggak perlu panik ketika sedang dihdapkan dengan bencna seperti gempa.

    Bagus ya Nandong Smong ini dilestarikan, sampai akhirnya punya manfaat yang begitu besar.

  32. Menarik dan bermanfaat sekali kearifan lokalnya. Pendidikan mitigasi bencana melalui syair turun-temurun. Andai bidang kajian saya bersinggungan dengan ini, saya juga tertarik untuk meneliti tentang Nandong Smong ini. Semoga tetap lestari hal baik seperti ini

  33. nah gini nih salah satu keuntungan dan keunggulan menjadi bloger, saya serasa jadi jalan-jalan dan ngerti sejarah nandong smong di Aceh serta tsunami purba di sana. Film juga menjadi salah satu medium yang efektif serta atraktif ya kak, saya jadi mau nonton juga :3

  34. Aceh….
    Jadi inget beberapa tahun silam.
    Tiba tiba ada Tsunami datang melanda menghancurkan apa aja yang dilewatinya.
    Inget kejadian tersebut jadi sedih melihatnya.
    Makanya didaerah lain jika ada gempa sedikit aja langsung dikaitkan dengan Tsunami juga.
    Semoga masyarakat Aceh selalu dalam lindungan nya

  35. Oh, Aceh purba pernah kena musibah tsunami juga ya. Makanya mitigasi bencana perlu digalakkan lagi. Dan kalau ada model mitigasi bencana tradisional yang sudah mengakar seperti nandong smong bisa membuat korban akibat bencana bisa diminimalisir.

  36. BTW mba, Gua Ek Luntie itu saat ini letaknya di dataran tinggi atau rendah kah mba? Saya sampai merinding loh ini membacanya dan mengingat lagi kejadian tsunami Aceh dulu itu. Mitigasi bencana lewat kearifan lokal ternyata sangat membantu mengedukasi masyarakat ya.

  37. Masha Allah, bahkan sejak zaman purba sampai ada manuskrip kuno tentang tsunami ya.
    Memang Aceh sudah bukan hal baru kalau ngomongin tsunami kayaknya.

    Anyway, salut pada para peneliti yang mengungkap rahasia dari masa lalu 🙂

  38. jd saat akan tsunami itu air laut surut dulu ya. yg gak paham pasti langsung main ke laut. kemudian ombak besar menerjang hiii…. benar kudh bs sosialisasikan lagi yg namanya Nandong Smong, bs lewat film agar maksudnya mudah dipahami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like