Pembahasan soal rasisme bukanlah barang baru lagi. Isu diskriminalisasi ini sudah jadi konsumsi publik sehari-hari. Jika ditanya apakah kamu rasis? Sudah pasti semua orang menjawab tidak. Lantas sejauh apa kamu sudah belajar untuk tidak rasis?

Sebenarnya aku pribadi agak ngeri-ngeri sedap nulis soal rasisme ini. Isu ini sangat sensitif dan terus terang aku bukan ahli dalam bidang ini. Aku hanya sedikit sharing tentang apa yang aku yakini soal betapa nggak asiknya menjadi rasis dan kewajiban kita untuk menjadi orang yang anti-rasis.
25 Mei 2020 lalu, berita soal rasisme ini kembali menggemparkan media dunia. George Floyd, seorang keturunan Amerika-Afrika, di Minneapolis meninggal dunia setelah diborgol dan dalam keadaan terlungkup di tanah lehernya dijepit dengan lutut oleh polisi.
Kasus ini agak mirip kasus di Indonesia, di mana mahasiswa Papua mendapat perlakuan diskriminatif dan ujaran rasis di Surabaya dan Malang Agustus 2019 lalu yang berakhir dengan demo dan aksi solidaritas yang dilakukan banyak orang (mahasiswa dan masyarakat) termasuk di Wamena.

Belajar untuk tidak rasis perlu dilakukan di tengah isu rasisme sekarang ini

Agak miris melihat kenapa kasus seperti ini bisa terjadi. Bukankah harusnya perbedaan itu yang menciptakan keindahan? Makin miris lagi setelah baca IG story temanku Ahmad Affandi, seorang guru Bahasa Inggris, yang bercerita tentang rasis di lingkungan sekolah.
Fandi, begitu dia akrab disapa, memutarkan sebuah film berbahasa Inggris di kelas. Siswa menyaksikan dengan seksama dan kemudian tertawa saat melihat adegan pemeran berkulit hitam. Pak guru Fandi bertanya kepada siswa kenapa tertawa, siswa menjawab karena orangnya ‘hitam dan lucu’. Apanya yang lucu dengan orang kulit hitam sampai dia harus ditertawakan?
Pemberitaan soal rasisme ini benar-benar menggangguku sampai akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada diri sendiri sudah sejauh mana aksi anti-rasis yang aku lakukan? Apakah aku benar-benar orang yang tidak rasis? Setelah refleksi diri, aku sadar bahwa aku, dan mungkin kamu, harus belajar untuk tidak rasis.

1. Jadi netral saja nggak cukup!

We are all different shades of the same COLOR – Anonymous
Kenapa menjadi netral saja nggak cukup? Kita harus lebih dari itu, menjadi anti-rasis. Justru itu kita seharusnya dituntut untuk belajar menjadi anti-rasis. Kita harus aktif mengkampanyekan anti-rasis ini terutama kepada keluarga terdekat, kepada anak cucu kita khususnya.
Kita harus menanamkan konsep pada diri sendiri bahwa rasisme adalah musuh utama bagi keharmonisan hidup sosial. Memang ini bukanlah hal yang mudah, tapi setidaknya ada usaha dari kita untuk berada di garis terdepan untuk menentang segala bentuk rasisme.
Jika kita mengaku tidak rasis, maka melihat berita tentang rasisme dan mengutuk pelakunya saja tidak cukup. Harus ada aksi dalam diri ini untuk bertindak lebih jauh dari itu.

2. Mencari tahu sebanyak-banyaknya

Ini adalah cara lain untuk belajar menjadi anti-rasis. Aku pribadi sering mencari tahu tentang kasus rasis dan bagaimana agak aktif menyuarakan anti rasis ini melalui buku, film dokumenter, atau film box offiice seperti 12 Years of Slave. Film ini sukses menyadarkan aku bahwa menjadi rasis itu sangat kejam .
Buku-buku tentang anti rasis juga sudah banyak beredar di toko buku seperti salah satunya adalah How to be an Anti-Racist yang ditulis oleh Ibram X. Kendi, So You Want to Talk about Race karya Ijeoma Oluo bahkan buku Rasis! Pengkhianat! Miskin Moral! yang mengangkat perjalanan salah grup band terkenal Indonesia yaitu Superman is Dead bisa dijadikan bahan bacaan yang bagus.
Belajar tentang rasisme ini juga bisa dilakukan via sosial media. Banyak akun Instagram atau tulisan yang menginspirasi di Facebook yang bisa dijadikan materi belajar. Diskusi dengan teman-teman tentang aktif menjadi tidak rasis juga bisa jadi media belajar. Menjadi lebih aktif dan produktif dalam menyuarakan anti-rasis ini tentu perlu.
Salah satu kata motivasi dari Nelson Mandela tentang anti-rasis

3. Aktif Menyuarakan Anti-Rasis

Menyuarakan anti-rasis tidak harus berkoar-koar di sosial media. Bisa diawali dengan diri sendiri dan keluarga terdekat dulu. Belajar anti-rasis bersama-sama tentu akan lebih memudahkan.
Aku pribadi selalu berhati-hati dalam berdiskusi atau menanggapi suatu isu apalagi yang berkaitan dengan rasisme. Aku berusaha untuk menerima perbedaan dan berteman dengan siapa saja dengan tidak memandang suku atau ras mana dia berasal. Kadang, jika kesal dengan seseorang pun, aku berusaha untuk tidak menyalahkan ras nya melainkan hanya marah dengan kelakuannya saja.
Bagi orang tua, misalkan, menyuarakan anti-rasis bisa dimulai dengan mengajarkan anak-anak untuk berbuat baik ke semua orang. Ajaran tentang ‘color-blind’ atau tidak memandang suku perlu diterapkan sejak dini agar anak paham esensi hidup harmonis. Well, aku juga bukan expert soal parenting, tapi setidaknya ini yang diajarkan kakakku kepada anaknya.
Sekilas cerita tentang ponakanku yang sedang mewarnai gambar princess dan dia tidak mau mewarnai kulit princess dengan warna coklat karena kelir warna putih atau peach tidak ada. Ibunya menanyakan, kenapa bagian tangan dan mukanya tidak diwarnai dengan warna coklat?
Ponakanku menjawab; ‘Lho, masa sih princess kulitnya gelap? Nggak cantik dong’ dari situlah kakakku mulai memperhatikan banget persepsi anaknya soal warna kulit, ras, suku, dan agama. Dia mulai mengajarkan bahwa semua orang itu cantik asalkan baik.

4. Tanda Tangan Petisi

Tidak bisa dipungkiri bahwa ada saja kasus rasis di mana korban tidak mendapat keadilan seperti kasus George Floyd yang aku sebut di awal tadi. Biasanya di kasus seperti ini ada petisi yang dibuat sebagai aksi solidaritas.
Satu tanda tangan kita di petisi itu sangat berarti dan kita setidaknya sudah ambil bagian untuk menyuarakan anti-rasis. Yah, jika aksi turun ke jalan dianggap berbahaya, maka jangan lakukan sejauh itu. Setidaknya kamu sudah support korban rasis melalui tanda tangan petisi.

5. Donasi

Dalam kasus-kasus rasis, akan ada open donation entah untuk keluarga korban atau untuk aksi solidaritas masyarakat. Di Indonesia aku masih kurang tau soal donasi ini. Hanya saja beberapa temanku pernah ikut donasi saat kejadian di Malang agustus 2019 lalu. Itu untuk kasus lokal saja. Jujur aku masih kurang info tentang ini.
Untuk kasus multi negara, ada banyak tabung donasi yang dibuka untuk konflik di Palestina, pembantaian etnis uyghur, dan lain sebagainya. Jika kamu mampu, berdonasilah seikhlasnya sebagai bentuk partisipsi.
Belajar untuk tidak rasis perlu proses yang panjang dan komitmen yang tinggi. Tidak ada belajar yang singkat, semuanya butuh usaha dan kerja keras agar kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Teruslah berusaha untuk menjadi orang yang tidak membeda-bedakan. Jadilah orang yang bermanfaat kepada orang lain.
_cheers_
0 Shares:
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like