Biarlah kali ini aku ngomong agak keluar dari topik. Biasanya kan bakal nulis something yang informatif tentang tempat wisata atau penginapan. Nah, kali ini pulak aku sambat nulis yang kayak ginian. Honestly, aku bukan tipe orang yang suka ngebahas tentang hidup. Aku sih let it flow aja. Kemana angin membawa. Asal gak tersesat dan gak tau arah jalan pulang aja.
Menjelang akhir tahun aku dibombardir dengan segudang pertanyaan yang itu-itu aja menurutku karena udah ditanyain dari jaman kapan. Jadi aku udah hafal banget. Dan pertanyaan ini gak cuma ditanya sama orang sekitar aka keluarga tapi juga ditanya sama mahasiswa-mahasiswi aku. ^^
Miss, kapan nikah?
Tanya sekali lagi gitu, auto nilai D.
Ah, miss kejam. Kan kami mau juga hadir dipernikahan miss, bla bla bla.
Kadang harus digituin biar mereka diam ^^. Galak amat ya Bu Dosen ini? Gak kok. Cuma ya itu sering konslet aja. LOL.
Kesambatan aku menulis ini berawal dari seorang teman dekat yang peduli tanya kabar aku. Yah, we’re close by heart, far by distance. Dia sering update tentang aku dan akan ngecek kondisi kejiwaan aku setiap kali di statusku ada kata-kata bijak yang wara-wiri.
Gimana, sehat? Mental sehat?
Gitu kadang dia bercanda. Walau sebenarnya dia udah hafal juga aku akan selalu balas “I’m totally okay!”. Pertanyaan kabar kemudian berujung dengan pertanyaan, udah mau 2020 kapan abang itu mau melamar. Ah, abang yang mana, bukannya itu udah lama berakhir bahkan sudah berkurun waktu, kujelasin lah sama dia ya kan. Ya udah cari yang lain ah, jangan kayak orang susah. katanya gitu. Yakalik gampang nyarinya kayak beli ikan tongkol di pasar. (Kok ikan tongkol sih? Gak tau lagi pengen makan ikan tongkol sambel aja kali ya. Okay, skip!)
Emang gak ada niat nikah ya? Jeeeessss.. Gitu pulak pertanyaannya. Ya siapa sih yang gak mau menikah ya kan. Apalagi umur yang sering disebut “udah tuwir” kayak aku. Cuma aku masih punya prioritas lain, kataku sama dia. Pas ditanya apa itu kujawablah KARIR dan JENJALAN. Mulai lah dia mengomel dari A sampe Z balik lagi ke A sampe Z lagi.
JADI GINI…..
Cak dengar baik-baik Anjas cerita ya.
Sikap cuekku akan goals of life itu dianggap salah sama orang-orang yang peduli sama aku. Terlalu santai, kata mereka. Harusnya umur segini aku udah gini, gini, gitu, gitu. Ya, aku pun jugak mau. But hey, this is my life. I’m the master of my sea, kalau kata Imagine Dragon tuh.
Ngemeng-ngemeng soal goals of life, aku udah buat sederet target lengkap dengan deadlinenya. Ada sebagian yang kucapai di tenggat waktu yang pas, ada yang lebih cepat, tapi sebagian besar memang melenceng dari jadwal dan ketinggalan jauh dari deadline. Bahkan ada juga sebagian yang gak masuk list yang aku dapat.
Apa kemudian aku mengutuk diri? YES! Aku marah pada diri sendiri, andai aku berusaha lebih keras dan menabung dari jaman kapan, pasti sekarang aku udah bisa beli mobil dan rumah besar. Andai aku berusaha belajar lebih giat lagi pasti sekarang aku udah S3 di University of Leeds. Coba kalau aku dari dulu ngasah sosial dan negotiation skill, pasti sekarang aku udah kerja di luar negeri dengan posisi yang menjanjikan. Itu semua masuk di 100 daftar keinginan aku yang aku tulis 10 tahun yang lalu. Tahun depan udah masuk 11 tahun aja, anjay dah!
Menikah masuk diurutan atas walau bukan yang teratas. Aku ingat nulis “MENIKAH DI UMUR 27 TAHUN”. Sekarang udah meleset 3 tahun. Lama lho itu. Bukan hitungan hari dan bulan, udah hitungan tahun. Setiap tahun aku honestly targetkan dan tiap hari berdoa “tahun ini nikah, ya Allah”, “tahun ini semoga hilal jodohku keliatan, Ya Allah”, “semoga tahun ini Engkau kirimkan seseorang yang mampu membimbingku dunia akhirat, Ya Allah”. Dan apa aku marah-marah ke diri sendiri karena gak bisa buka hati? YES!
Sama halnya dengan list “JALAN-JALAN KELILING EROPA TAHUN 2018”. Kesampaian? Kagak. Andai aku gak sering kalap belanja online pasti udah bisa kewujud tuh cita-cita. Dan apa aku kesal sama diri sendiri? YES!

Dan apakah aku menyalahkan sang pemilik takdir, pengatur Qadha dan Qadar atas apa yang terjadi padaku? NO! Walau sering ngeluh dan tanya ke Allah, why this why that why like this why like that, tapi udah gitu balik lagi ke pertanyaan “WHY NOT?”

LANTAS MANA YANG JADI PRIORITAS TAHUN DEPAN? MENIKAH, KARIR, ATAU TRAVELING?

Yups, aku ditanya gini sama temenku dan aku jawab: ALL OF THEM tanpa ragu. Gak ada yang lebih prioritas karena semuanya sama porsi “desire to achieve” nya.
Kayak yang aku bilang tadi, aku tipe orang yang let it flow aja. Apa yang ada di depan ya aku fokus sama yang itu dulu. Pernah sesekali kepleset sama distraction tapi ujung-ujung akan fokus lagi ngejalanin hidup yang lagi dijalanin.
Contoh sederhana tahun 2013 lalu aku dapat kesempatan untuk S2 dengan beasiswa dan di saat yang sama pacar aku (udah jadi mantan ding) ingin menikah tapi tabungannya belum cukup. Lantas apa aku harus menunggu dia dengan tetap jadi asisten dosen dan melewatkan kesempatan beasiswa yang bisa jadi gak datang lagi tahun depan? Akhirnya aku putuskan untuk S2. Hingga akhirnya hubungan itu kandas karna satu dan lain hal. Ah, gak usah diceritain. 
Aku jenis manusia yang suka berkembang. Walau aku tau sih perkembangannya lambat, tapi boleh lah kasih tepuk tangan untuk diri sendiri. Belajar menghargai diri sendiri. Aku bakal bahagia banget kalau bisa berterima kasih sama diri sendiri karena gak mudah bagi aku untuk menerima diri yang penuh kekurangan.
Kalau gak ngeh, baca lagi paragraf di atas. Aku suka marah, suka kesal, suka mengutuk diri karena gak bisa seperti yang diharapkan. Gak pernah aku bilang “Good job, Jasmi. You did great so far. It’s okay. You can try harder next time”. Aku selalu akan ngomong “What a stupid b****. Fool. Dumb. Why don’t you try harder”. Dan itu gak baik untuk mental health aku. Dalam waktu yang lama aku dilanda penyakit sering murung, sering demotivated. Yah, sekarang masih juga sih susah dapat motivasi apalagi kalau nulis blog gini. ^^
Semakin hari aku belajar untuk mengapresiasi diri. Hasilnya bisa aku tuai sekarang dan ini (Self Mental Development) sama sekali gak masuk dalam 100 keinginan aku. But, I got it and I’m so greatful.
Balik lagi ke soal menikah. Aku juga bersyukur untuk gak buru-buru menikah karena saat itu emosi aku gak stabil. Bisa kebayang rumah tangga aku bakal penuh dengan api kalau aku menikah 5 atau 4 tahun yang lalu. That’s why kata-kata bijak ‘Semuanya akan terjadi di waktu yang tepat’ itu hukumnya adalah mutlak. Benar! 4 or 5 years ago is not my time. Today is not mine either. Maybe next time. I’ll just need to wait. 
Aku dapat banyak banget undangan pernikahan. Teman-teman aku sebagian besar juga udah punya suami dan anak 2 3 4. Aku masih betah bersolo ria. Apa aku enjoy? Sangat! Apa aku sedih belum menikah? Pernah, tapi sekarang udah gak! Dulu pas umur 27-29 aku akan sedih setiap kali terima undangan pernikahan. Bertanya-tanya meragui kapan waktuku akan tiba. 
Apa aku sudah siap untuk menikah? Tentu! Bulan depan siap? Hari ini pun aku siap. Justru itu aku bilang menikah pun jadi prioritas aku tahun 2020. Tapi, alih-alih aku berusaha keras untuk cari muka tebar pesona ke lelaki di luar sana, aku lebih fokus ke usaha aku memperbaiki diri. Apa sekarang masih kurang baik? Tentu! Gak ada parameter baku untuk mengukur pribadi seorang itu baik atau gak. Menjadi lebih baik lagi dan lagi tentu perlu, tak ada batasan. 
Membaca penjelasanku tentang menikah ini bertolak belakang sama apa yang aku jawab ke temanku. Aku bilang menikah bukan prioritas aku saat ini. Aku cuma sedikit enek dengan bahasan itu. Melulu pertanyaan tentang nikah yang dilontarkan, jarang banget ada yang nanya progres karir aku gimana atau planning aku tahun depan mau liburan ke mana! 

APAKAH INGIN JADI WANITA KARIR?

Untuk saat ini karir bagi aku adalah kebutuhan. Hey, I need to feed myself. Udah tuwir gak mungkin jadi beban keluarga lagi ya kan. Selagi single gini, kerja lah dulu baik-baik, cari uang untuk beli kosmetik dan skincare yang anggarannya gak kecil. 
Apakah ingin tetap berkarir setelah menikah? Ingin! Tergantung deal-dealan dengan suami tentunya. Yah kalau bisa, kasihlah aku tetap kerja walau cuma jadi karyawan part-time because I used to it. Udah biasa kerja dan memang suka bekerja. Udah sampe sini stop ya! Jangan ada pulak nanti bahasan ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Panjang nanti urusannya.

GIMANA DENGAN TRAVELING?

Aku suka jalan-jalan. That’s why aku gak akan betah kalau di rumah terus. Apa mainku udah jauh? Tidak! Masih deket-deket aja tapi aku menyebut diri aku seorang traveler. Sejatinya hidup adalah tentang perjalanan. Setiap dari kita adalah pengembala yang sedang berusaha mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya sebaik-baiknya untuk kehidupan selanjutnya. 
Hobi traveling ini jadi prioritas karena I can go beyond myself during traveling. Aku yang sering khawatir dan punya anxiety attack parah bisa ngatasin itu semua saat jalan-jalan. Aku yang terbiasa manja akan jadi super kuat saat aku di luar rumah. Aku yang kurang bersyukur akan lebih banyak berterima kasih kepada Allah setiap kali melihat hal baru. Aku saat di rumah, beda dengan aku saat traveling. 
Justru itu, traveling akan terus jadi prioritas aku bahkan jika udah menikah nanti karena aku belajar pengembangan diri dari situ. Itung-itung biar ada konten untuk blog juga ya kan. Katanya travel blogger. Ohya, aku juga sayang sama blog aku walau jarang update artikel. Traveling dan blog bagi aku udah kayak sepasang angsa di kolam taman kota. Gak bisa dipisahkan. 

Sampai sini paham?

Intinya, ketiganya adalah hal yang ingin aku capai. Aku ingin menikah, aku ingin karirku naik (walau udah mau resign dari tempat lama dan banting stir dari pendidikan ke bisnis manajemen), dan aku ingin jalan-jalan lebih jauh. Semua untuk pengembangan diri. But, one thing is menikah bukan diurutan paling atas. 
Yang ada di depan aku sekarang adalah kerjaan dengan PR yang besar karna bidang yang akan aku geluti nanti adalah baru buat aku. Untuk hasil yang maksimal, aku mau gak mau ya berusaha lebih untuk mencapai apa yang aku inginkan. 
Yang kedua adalah jalan-jalan karena itulah cara terbaik aku healing dari lelah bekerja. Lagian untuk apa juga kerja kalau bukan untuk nabung dan melakukan sesuatu yang kita suka? 
Kemudian menikah ada diurutan akhir. Kenapa? Karna hilal pun belum nampak, apa lagi yang harus kurisaukan? Daripada pusing mikirin jodoh, mending pikirin bagian mana lagi yang harus kuperbaiki? Daripada sibuk ngurusin jodoh orang lain, mending aku sibuk menata hati yang entah udah berapa lama kubiarkan berserak setelah hancur. 
Itu cuma kataku. Kata Allah bisa jadi berbeda dan aku gak akan bisa apa-apa. Kunfayakun, jadi maka jadilah. Katakanlah aku akan menikah dalam waktu dekat dan meninggalkan karir atau menikah kemudian gak bisa jalan-jalan lagi. Aku bisa apa? Legowo, nrimo. Berarti itulah jalanku. 
Halah banyak bacot anda. Emang! Aku emang bacot pengen ini itu, tapi kalau aku gak dapat itu, pada siapa aku harus marah? Tidak pada siapapun. Rencana Allah lah sebaik-baik rencana di muka bumi. Udah, sampai sini gak ada yang bantah kan ya?

PEOPLE OUT THERE, LISTEN TO ME…

Jika kamu adalah salah satu yang mengalami kurang lebih kejadian kayak aku, aku cuma bisa kasih beberapa hal untuk pengingat. Aku gak bijak, ini pengganti pengingat untuk diri sendiri aja. 
Jika kamu masih ragu harus ngapain dalam hidup, maka:
1. Percaya pada apa yang sedang kamu lakukan. Tetap lakukan yang terbaik untuk hasil yang gak mengecewakan kamu bahkan keluarga.
2. Hiduplah untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Kejar target sendiri, bukan apa yang didikte orang lain. But, don’t be selfish. Bukalah hati untuk menerima nasehat-nasehat positif dari orang tersayang yang gak menjatuhkan.
3. Apapun prioritas kamu, work for it! Persiapkan diri jika sewaktu-waktu nahkoda akan putar arah kendali. Jangan oleng. Justru itu dari awal harus let if flow, let it go, fleksibel. Jadi kalau ada perubahan-perubahan dalam hidup, kamu masih bisa berdiri gagah. 
4. Ikhlas dan lapang dada dengan apa yang kamu dapat. Bisa jadi apa yang kamu punya gak sesuai dengan keinginan kamu, tapi percayalah itu yang terbaik untuk kamu saat ini dan itulah yang kamu butuhkan. Yakinlah, kamu akan berterimakasih untuk momenmu saat ini di masa akan datang. 
5. Berbenahlah dari sekarang. Bagian mana yang kamu rasa bocor dan perlu ditambal, maka kerjakan dari sekarang untuk menghindari bocor yang lebih besar (kok kayak ngomongin ban mobil ini ya?)
6. Thank yourself. Walau progresnya baby step, itu tetap harus diapresiasi. Ini bagus untuk mental health untuk menanamkan kepercayaan diri. 
7. Life is not a competition. Larilah pada track kamu sendiri dengan speed semaksimal yang kamu bisa. Gak mungkin orang yang cepat semput kayak aku nyamain kecepatan Usain Bolt kan? Kalau bisa mah udah jadi juara aku. Sesekali lirik kiri kanan boleh, tapi sebagai pengingat diri. Manusiawi lah itu. 
8.Your only enemy is yourself. Jadi, jangan jadi musuh diri sendiri dengan mengutuk, marah, atau merundung diri sendiri. Alih-alih menyalahkan, coba sama-sama memperbaiki. Sering-sering lah ngomong sama diri sendiri. Puk-puk dia, beri dia kasih sayang terbaik (dasar gue jomblo cuma bisa belai diri sendiri wkwkwkwk).
Jadi kapan nikah? Ya kalau abang mau melamar, adek gak akan nolak kok. ^^ Kapan kita buka bisnis dan berinvestasi? Segera! Kapan kita khemon? Ayok tahun depan kita ke Cina.
Nah, udah segitu aja. Udah cukup sambatnya. 
Semoga bermanfaat!! Semoga tersegerakan apa-apa yang jadi keinginan. Allah maha mendengar, yakin cepat atau lambat paket dari Allah akan sampe. Tergantung Allah kirimnya pake paket kilat atau paket biasa. Tergantung amal ibadah juga. Yuk, fokus memperbaiki diri. 
0 Shares:
0 comments
  1. Nah itu galau yang sangat patut digalaukan. AKu juga mikir gitu, kalau2 suami aku anti drakor, apakah hidupku akan baik2 saja? hahahaha.. Semoga jadi sama mas2 tinggi itu. aamiin

  2. Semangat terus menggapai cita2 mbak. Aku target travelingnya agak jauh sih mbak. Yang mungkin butuh visa dll segala tetek bengek. Harus ditaergetin demi menabung. hahahaha

  3. Masih muda banget itu 23 tahun. Masih panjang perjalanannya InsyaAllah dalam mengalami gejolak hidup. Tetaplah jadi diri sendiri dann set target apa yang mau dicapai mulai dari sekarang biar nnti gampang eksekusinya. kalau aku pribadi memang gak ada proyeksi sama sekali. Jadi let it go aja. Dan itu akan lebih terombang ambing lagi.

  4. Mbak Fika…. Aku padamu. Apapun yang kita jalani sekarang adalah versi hidup terbaik yang allah berikan dan akan selalu bisa jadi lebih baik lagi dan lagi. Semangat juga untuk mbak dan keluarga kecilnya ya..

  5. Aamiin. Semoga jodoh tetap di Nagoya Hill ya Teh, biar aku bisa sering ke sana. ^^ Boleh bermimpi, pada akhirnya kalau itu tidak bisa kita raih, ya apalagi yang harus kita lakukan kalau bukan berdamai dengan diri sendiri dan melakukan hal lain dengan lebih baik lagi sebagai penebusan.

  6. Terharu banget aku tuh. Makasih Cha udah kasih aku kata2 semangat yang tulus. I do need it. Nah itu, sejatinya menikah adalah menggabungkan 2 impian yang bisa jadi berbeda untuk dijadikan sama. Semoga Cha dan keluarga sehat selalu juga yaaa…

  7. Seru ya mbak punya suami yang supportive gitu.. Aku juga nanti sama suamiku mau tak gituin ah, plis izinin aku jalan2 minimal ke kampung tetangga. ^^

    Target menikah dan karir itu lebiih ke pengembangan diri sih mbak. Aku pribadi juga percaya semua udah diatur Allah, ya aku fokus ke menata hati dan kembali membukanya setelah berserak sekian lama. hahaha

  8. Big hugs.. Iya kalau kita goyah, orang lain juga akan enggan mendukung kita. Jadi, fondasi diri sendiri dlu yang diperkuat baru deh cari support system dari luar yang cocok sama kita. Kalo aku sih maunya abang itu yang jadi supporter.. hahahah..eeeaaakkk

  9. Nah itu juga harapan aku. Semoga bahagia dan mendapat berkah atas apa yang aku jalani sekarang. Dan satu laggi, tetap bersyukur atas apa yang aku dapatkan. Semangat silvi…

  10. Aku udah menikah jadi sudah pasti nikah gak jadi prioritas hehehe.. Kalau traveling sebenarnya pingin, tapi waktunya yg susah karena terikat pekerjaan. Jadi, mungkin karir ya yg harus diprioritaskan?

  11. Hahah.. kk, aku lagi galau di antara 3 hal itu. Aku berusaha untuk nggak inget. Baca ini eh inget lagi. Hmm… Umur aku udah 23 tapi pertimbangan 3 hal, karir, menikah, traveling, rasanya hal yang amat berat untuk dipilih hmmm

  12. Wkwkw kegalauan yang haqiqi.

    Klo masalah travelling aku gak galau dan gak tak bandingkan sama nikah lah…

    Ttapi klo karir dan lifestyle pasti agak gimana..

    Contoh.

    Lifestyle tdur malam dini hari bangun siang karena ngeblog atau ntn drakor..

    Itu bsok klo nikah udah ga bisa dilakuin lagi bukan? Wkwkw

    2020 semoga mbak jasmi nikah, akupun moga bisa memantapkan hati #eaakk

  13. I feel you Anjas. Aku sering merasa sebel sama diri sendiri kenapa sih dulu nggak begini nggak begitu, kenapa target S2 dan S3 nggak tercapai padahal itu sudah cita-cita lama. Namun akhirnya harus berdamai dengan diri sendiri.

    Btw, semoga denfan kepindahannya ke Batam akan menemukan hilal yang ditunggu-tunggu.

  14. Bener kak, Kita yg menjalani hidup Kita lah yg punya peranan menentukan keputusan. Org lain boleh didengarkan bila Kita rasa nasehat mereka memang sudah jelas baik. Aku pun termasuk yang dulu itu nggak mau menikah.. wkwkk lebih mengejar karir..eh tapi entah Kenapa setelah nikah malah jadi IRT tok. So aku doakan ya semoga apapun yg mau kamu capai. Dimudahkan Dan dilancarkan. Aamiin

  15. Umm, jalani aja apa yang Kakak percaya, tapi kalo sudah ketemu sama orang yang segala jelek jeleknya bisa Kakak tolerir seumur hidup, berarti Kakak bisa kuatkan hati buat menikah.

    Soalnya Ka, sepengalaman aku yang umur 30 aja belum tapi udah punya 2 bayi, padahal impianku nikah umur 30 tuh dulu (kecepetan soalnya partner yang sesuai doa udah keburu nongol), orang yang tepat akan membuat Kakak tetap on track. Tetap jadi diri sendiri. Bahkan impian Kakak, bucketlist Kakak Jas bukan jadi milik Kakak sendiri lagi, tapi jadi milik bersama dan diperjuangkan bersama, baik tentang traveling, karir, bahkan nambah lagi tentang "keluarga".

    Semoga Ka Jas sehat bahagia selalu. Semangaaattt.

  16. Intinya, segala sesuatu itu akan ada waktu dan masanya. Dan Insya Allah semua akan indah pada waktunya. Jadi Mbak Jasmi menyongsong 2020 dengan penuh semangat. Nanti semua juga akan berjalan. Misalnya karir menjadi Bu dosen semakin meningkat, suatu hari ada tugas ke sebuah daerah. Jadi sekedar travelling. Eh.. pas travelling malah bertemu jodohnya, alurnya yang sangat manis kan, Mbak. Jadi Aamiinkan saja hehehe.

  17. Kalo admin sendiri prioritasnya apa hayo? Menurutku kalo masih suka sendirian, brarti dipuasin dulu travelingnya, kalo ingin menemukan jati diri brrti tuntaskan karirnya dan kalo ingin karir+traveling berasa nikmat dan berkah maka nikah dulu aja, mumpung ada kesempatan :v

  18. Pertanyaan2 yang sangat aku hindari kalo ketemu temen/orang lain, kapan nikah, kapan punya anak, kapan kerja. Pantang nanyain begini kalo aku. Krn tau rasanya seperti apa.

    Kalo misalnya aku blm nikah, mungkin target 2020 ini, aku bakal lebih mentingin traveling sih mba :D. Secara itu cinta matiku. Bersyukur suami slalu ngizinin utk aku pergi ke tempat2 yg ga biasa, walo ga bareng dia. Krn dia tau traveling udh kayak obat buatku :). Tanpa ini mungkin aku bisa stress berat yg bakal berefek panjang ke anak2.

    Kalo target2 kayak menikah, karir, ntah kenapa aku ga pernah pusingin,Krn toh itu semua ketentuan Allah. Jadi ya sudahlah, apa2 yg menjadi kehendakNya, biarkan aja berjalan seiring waktu :p. Aku cukup mikirin yg bisa aku lakuin seperti nabung utk traveling 😀

  19. suka banget nih gue kalau ada orang nulis dan enthusiasm sama mimpi-mimpinya sekaligus dan percaya. semoga 2020 jadi segala mimpimu terwujud ya miss, kalau bagian tipsnya gue setuju banget emang kadang ada yang bikin goyah sama percaya diri sendiri tapi kan yang paling tahu kita sendiri. Huugs

  20. Usia- usia cewek disuruh lekas merid juga sedang kualami nih kak Jas. Padahal sih kitanya santuy aja menjalani kehidupan. Mana yang membuat kita senang ya jalani saja. Tapi memang omongan orang gak bisa kita halau, cuma bisa dengerin aja sambil tersenyum getir tiap kali dibanding- bandingkan sama kawan yang udah pada kewong. wkwk

    2020 aku sih pengen makin bahagia aja lah dengan apapun yang akan kujalani

  21. Kadang kita udah jelasin semampu kita. Kalau masih ada komentar juga, aku sih memilih diam aja. Kecuali keluarga ya.. Mungkin masih sabar lah dihadapi. Tapi yang paling bikin bete tu kadang2 ya nitijen. hahahaha

  22. Mudah2an 8 poin itu bisa terwakilkan semua ya mbak.. Gak ada yang salah dengan apapun yang jadi keinginan kita. Yang salah adalah kita gak berusaha atau menyalahkan takdir saat tidak mendapatkannya. Semoga kita selalu menjadi orang yang lebih baik lagi

  23. semoga diberi yang terbaik ya, Jasmi. Manapun itu, jalan-jalan keliling negara ya enjoy aja, karir melesat semoga, hilal jodoh semoga segera mengetuk pintu rumah walimu. Aamiin.

    Dan bener banget, terus memperbaiki diri agar pantas diberi yang jauh lebih baik. apapun itu.
    terimakasih 8 poin yang bikin kita nggak ragu tuk melangkah.

  24. Mau menikah atau tidak gak masalah sih mba, bergantung kebutuhan masing2, tapi ya itu, terkadang lingkungan ga senang melihat kita msh free ke mana-mana. Pa lagi keluarga ga semuanya ngerti dgn apa perioritas kita.

  25. Dan kembali lagi ke pernyataan bahwa keadaan orang beda-beda. Ada situasi dimana menikah adalah solusi, ada juga sebagian menikah hanyalah salah satu goal of life yang ingin dicapai. Aku pribadi sih, ingin menjadikan pernikahanku sebagai goal of life aja. Terlepas dari berapa lama lagi aku harus menunggu. hahahaha

  26. That's it. Hidup bersma adalah soal melengkapi satu sama lain termasuk keseimbangan emosi antara dua insan ini. Ah, untuk apa merisaukan waktu saat agenda sudah dijadwal rapi oleh Allah.

  27. Nah gitu kan asik. Linknya dibagi-bagi sama kamu. BTW, kadang emang bikin kesel sih. Tapi kesel juga sama diri sendiri kalau kesel mulu. Eh ini gimana sih? Jadi ya mending gak usah dikeselin. hahaha

  28. Aku saaaaangat sangat setuju dengan; setiap orang punya track masing-masing. Why bother others? Kasih kalimat/nasehat 1-2 bolehlah, tapi sebagai new insights bukan judgement terhadap pilihan hidup kita/mereka (eh gimana sih? Wkwkwk).

    Opini saya pribadi nih, justru saya ngga setuju dengan pemikiran bahwa menikah adalah solusi. Ya, solusi utk beberapa keadaan, tidak semua. Nah kasusnya skrg adalah yg terjadi di orang itu, apakah menikah mjd solusi yg tepat?

  29. ngomongin soal nikah, aku termasuk yang telat juga nih nikahnya. umur 32 tahun baru nikah. hihi. waktu itu bahkan sudah sampai yang pasrah ah mungkin memang takdirnya melajang tapi ternyata ketemu jodoh tanpa disangka. cuma ya setelah dijalani ternyata pernikahan itu lumayan rumit. wkwkwk

  30. aku hanya akan komentar mengenai emosi yang gak stabil saja,
    emosi seseorang yang gak stabil ketika disandingkan dengan yang lebih dewasa tentu bisa menjadi hal yang selaras dan bukan menjadi hambatan. Tetapi over all, semuanya punya masa dan jika belum datang berararti allah meminta kita untuk bersabar. Allah tahu yang hamba-Nya butuhkan

  31. Tos dulu lah sini. Aku jg bosan tiap kali ditanya gt, trus diceramahain blablabla ya kali siapa yg nggak pengen nikah kan? Kezel deh. Mbak anjas, besok kl ada yg nanya ke aku kpan nikah, aku kirim link postinganmu ini ya.. Hhh

  32. Setuju life is not a competition. Jalani aja yg depan mata. Kerjaan, ngajar, riset, PKM, ujian, kalo udah semua beres, waktunya jalan². Siapa tahu pas jalan² itu ketemu jodoh di bawah Menara Eiffel…😍😍

  33. Beughhh 'prok prok prok'.
    sampe ileran eikeh baca.
    Terheran-heran gue, penuh kejutan segala curah ditulis kali ini memang. Jasmi memang amazing 💪🏼

  34. Seandainya saya baca blog yang bahas curhat tentang pernikahan kala masih lajang dan kerja di Bandung, barangkali saya bisa lebih bikin perencanaan seperti Kak Jasmi.
    Duh, saya saja telat nikah kala umur baru 33 tahun. Telat ketemu orang yang Allah izinkan sebagai jodoh. Lagian soal menikah itu rumit, kalau belum ada hilalnya mau diapakah? Sedih mengingat masa itu saja.
    Puk-puk saja untuk kak Jasmi, semoga tiga hal itu tercapai. aamiin.

  35. Sambatan yang produktif banget. Pun, petuah-petuahnya sangat rasional.

    Kalau aku?

    Menikah jelas nggak lagi.

    Karir? Aku akan nyabangin bisnis kecil2an yg udah established.
    Kerja kantoran tetep, nggak mau naik jabatan krn pengen lebih punya banyak waktu ama keluarga.

    Travelling? Iya, tetapi pengen yang dekat2 rumah aja dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like